Jumat, 26 Juli 2013

Adab hubungan intim islami (QURRATUL 'UYUN)

Assalamu'alaikum sahabt KMN PRODUCTION,kali ini ane poeting yang sedikit dewasa tapi insya alloh dengan tujuan belajar dan pengetahuan.postingan kali ini ane beri judul hubungan intim menurut kitab islam (QURRATUL 'UYUN).silahkan disimak dan semoga bermanfaat.amin
Didalam jima’ (senggama)
terdapat adab-adab yang
dianjurkan islam yang
mengantarkannya kepada amal
islami yang sesuai dengan
manusia serta untuk merealisasikan sasaran-sasaran
yang diharapkan dari pernikahan.
Diantara adab-adab tersebut
adalah :

1. Menggunakan wangi-wangian
sebelum berjima.
Didalam ash Shahihain dari hadits
Aisyah berkata,” Sungguh aku
pernah memakaikan wewangian
kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian Beliau
mendatangi isteri-isterinya. Dan
pada pagi harinya Beliau
mengenakan pakaian ihram dalam
keadaan wangi semerbak”
2. Bercumbu (foreplay)
Sebelum berjima untuk
meningkatkan gairah
syahwatnya hingga bisa
mendapatkan kenikmatan yang
diinginkan.
3. Berdoa ketika berjima
Diriwayatkan oleh Bukhari dan
Muslim dari Ibnu Abbas berkata;
Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda: “Jika salah
seorang dari kalian ingin mendatangi istrinya (mengajak
bersetubuh), hendaknya
mengucapkan; BISMILLAH,
ALLAHUMMA JANNIBNAS
SYAITHAANA WAJANNIBIS
SYAITHAANA MAA RAZAQTANAA (Dengan menyebut nama Allah,
ya Allah, jauhkanlah kami dari
setan dan jauhkanlah setan dari
apa (anak) yang akan Engkau
rizkikan kepada kami), apabila di antara keduanya ditakdirkan mendapatkan anak dari hasil
persetubuhan itu, maka anak
tersebut tidak akan dicelakakan
setan selamanya.”
4. Macam-macam jima yang
dibolehkan
Jima tidak diperbolehkan kecuali
pada kemaluan yang menjadi
tempat melahirkan dan
reproduksi baik mendatanginya dari depan maupun belakang.
Diriwayatkan oleh Bukhari dan
Muslim dari Jabir berkata; Orang-
orang yahudi mengatakan; Jika
seorang lelaki menyetubuhi
isterinya pada kemaluannya dari arah belakang, maka anak
tersebut akan terlahir dalam
keadaan cacat matanya (juling).
Lalu turunlah ayat: “Isteri-isteri
kalian adalah tempat bercocok
tanam bagi kalian, maka datangilah tempat bercocok
tanam kalian dari mana saja
kalian kehendaki.”
5. Jika seorang suami telah
mencapai puncak orgasmenya
maka janganlah bersegera
menyudahinya sebelum si istri
mencapai puncak orgasmenya
pula.
6. Diharamkan menggaulinya
ketika sedang haid.
Diriwayakan oleh at Tirmidzi dan Abu Daud dari Abu Hurairah
bahwa Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Barangsiapa
menggauli wanita haid, atau
menggauli wanita dari dubur,
atau mendatangi dukun maka ia
telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
7. Diharamkan menggauli pada
duburnya Diriwayatkan oleh Abu
Daud dari Abu Hurairah bahwa
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda,”Terlaknat,
orang yang menggauli isterinya pada duburnya.”
8. Diharamkan menyebarkan apa
yang dilakukan suami istri terkait
dengan persetubuhan mereka.
Diriwayatkan oleh Muslim dari
Abu Sa’id Al Khudri berkata
bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya
manusia yang paling jelek
kedudukannya di sisi Allah pada
Hari Kiamat ialah seseorang yang
menyetubuhi istrinya dan istri
bersetubuh dengan suaminya, kemudian suami menyebarkan
rahasia istrinya.”
9. Diwajibkan mandi setelah
berjima’.
Walaupun tidak mengeluarkan
mani Diriwayatkan oleh Muslim
dari Abu Hurairah bahwa Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila seorang lelaki
duduk di antara empat cabang
milik perempuan (maksudnya
kedua paha dan kedua tangan),
kemudian menekannya maka
sungguh dia wajib mandi.” Didalam riwayat Muslim pula
disebutkan,”Apabila seorang
laki-laki duduk di antara cabang
empat wanita (maksudnya kedua
paha dan kedua tangan) dan
bertemulah kelamin laki-laki dengan kelamin wanita maka
sungguh telah wajib mandi’.”
Didalam riwayat at Tirmidzi
disebutkan,”Jika khitan bertemu
khitan maka telah wajib mandi.”
10. Menggunakan penutup
tatkala berjima’
Terdapat hadits dalam hal itu
akan tetapi lemah, maka tidaklah
mengapa tanpa menggunakan
penutup (selimut). Didalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu
Majah bahwa Rasulullah shalallahu
‘alaihi wa sallam, “Jika salah
seorang dari kalian mendatangi
isterinya hendaklah dengan
penutup, dan jangan telanjang bulat.”

Demikian sedikit ilmu,mohon dibenarkan bila ada [embahasan yang kurang tepat.terima kasih..salam KMN PRODUCTION

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar